PENGERTIAN
Delegasi (Delegation) secara singkat
dapat dikatakan bahwa delegasi adalahpemberian sebagaian tanggung jawab dan
kewibawaan kepada orang lain (Charles J. Keating : hal. 1991). Lebih lanjut
lagi Taiylor, (1993 : 68) Mengatakan bahwa pendelegasian adalah suatu proses
untuk mengembangkan pegawai pegawai anda.
P. Jenks (1991: 45) Dalam bukunya
Delegas kunci management menyatakan bahwa Menjadi seorang delegator yang
baik adalah merupakan suatu proses belajar maupun sebagai suatu cara untuk
memperoleh hasil yang spesifik.
CARA MENJALANKAN DELEGASI :
Ada unsuur unsur yang menyangkut dengan
delegasi
·
apa yang diberi didelegasikan
·
saling terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi
·
transparansi tentang delegasi
·
ada harapan yang diserahi delegasi
·
kekuasaan yang di serahi sepenunya
·
pengawasan yang wajar
·
orang yang di serahi delegasi
TUGAS
YANG PERLU DI DELEGASIKAN
Taiylor, (1993 : 55-66) mengatakan
Sepertinya sangat meringankan beban kerja dan di beri tugas kepada bawahan mana
secara potensial dapat didelegasikan kepada bawahan mana secara potensial
dapat didelegasikan kepada bawahan dan mana yang tidak :
·
manfaat yang didelegasikan masing-masing tugas yang termasuk
dalam ketagori tugas ini perlu di perimbangkan
·
pekerjaan rutin
·
pekerjaan yang merupakan harus
·
pekerjaan yang terlalu banyak
·
hal-hal yang khusus
·
pekerjaan terus menerus sama
·
proyek-proyek yang menyenangkan
TIDAK
BOLEH DI DELEGASIKAN
·
Upacara
·
Menentukan kebijakan
·
Masalah-masalah perssonalia yang khusus
·
Krisis
·
Masalah-masalah rahasia
BERBAGI
KEKUASAAN DAN MEMBERI WEWENANG
Delegasi berarti bahwa pemberian
wewenang dan delegasi merupakan konsep yang paling utama. Dalam
pelimpahan ini juga sebagai motivasi yang ingin maju, untuk menambah keahlian,
memperluas pengalam kerja dan ingin di beri tanggung jawab lebih oleh atasanya.
Delegasi sebagai bentuk penegembangan kerja yang informal dapat membantu,
mengontrol ambisi yang berlebihan. Teori motivasional mengagap delegasi sebagai
alat motivasi yang bagus sekali karena delegasi :
·
membantu untuk memeuaskan ego kebutuhan akan penghargaan
(Abraham Maslow).
·
memberikan karyawan kesempatan untuk berkembang dalam
pekerjaan yang mereka lakukan sekarang (Feredik Herzberg)
·
merupakan wujud kepercayaan dan percaya diri, yang merupakan
inti dari manejer Teori Y (Douglas McGregor)
PILIH ORANG YANG TEPAT
Seperti kita ketahui bahwa, delegasi
lebih dari sekedar memberikan orang untuk mengerjakan sesuatu. Dengan mengikuti
cara pemlihan orang yang tepat dan teratur dan bijak, memilih bawahan dengan
keahlian yang paling cocok dengan pekerjaanya, atau memilih staf atau karyawan
yang sekiranya akan mendapatkan pengalaman yang berguna dari pekerjaan yang
didelegasikan.
Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam
proses delegasi kekuasaan sehingga dapat berjalan efektif keempat hal
tersebut adalah :
a) Dalam pemberian suatu delegasi
kekuasaan atau tugas harus lah dibarengi dengan pemberian tanggung jawab.
b) Kekuasaan yang didelegasikan harus pada
orang yang tepat baik dari segi kualifikasi maupun segi fisik.
c) Mendelegasikan kekuasaan pada seseorang
juga harus dibarengi dengan pemberian motivasi.
d) Pimpinan yang mendelegasikan
kekuasaannya harus membimbing dan mengawasi orang yang menerima delegasi
tersebut.
Dengan demikian pendelegasian kekuasaan mempunyai manfaat
ganda diantaranya adalah:
·
Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan
pokoknya.
·
Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan pada unit yang
tepat.
·
Inisiatiif dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi.
·
Mendidik dan mengembangkan bawahan sehigga mampu diberi
beban tugas yang lebih besar dan berat lagi nantinya.
DELEGASI KEKUASAAN
Manajemen oleh delegasi kekuasaan
dengan mendelegasikan pengelolaan transfer ke orang lain, pada tingkat lebih
rendah kewenangan manajemen formal dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas
tertentu., tugas dan tanggung jawab rutin dan operasional tetapi tidak tugas
strategis. Kekuasaan atau power berarti suatu kemampuan untuk mempengaruhi
orang atau merubah orang atau situasi
KEKUASAAN
Kekuasaan dan keagungan berada diantara
kesenangan setiap orang (Russel, 1938), dimana semua kesenangan dapat berada
diatas segalanya hanya melalui kekuasaan (Nietzelsche,.1929). karena kekuasaan
orang menjadi koruptor, dimana kewenangan dapat menjadikan orang leluasa
membuat penyimpangan (Sennet, 1980), serta dengan kekuasaan orang akan mudah
membuat kebobrokan dan kesalahan yang tidak menyenangkan orang lain pada
umumnya (Niebuhr, 1949).
Dengan kekuasaan membuat orang memiliki
wewenang untuk melakukan sesuatu di dalam kelompok yang mengakui kekuasaan
tersebut, baik di dalam kelompok atau organisasi ssosial dan politik
kemasyarakatan serta kelompok usaha bisnis. Kekuasaan itu memberi seseorang
legitimasi untuk bertindak, dengan alasan pengamanan kepentingan kelomopok,
kadang-kadang tidak dapat dibedakan dengan manajemen modern, definisi kekuasaan
ini sudah mulai dipilih secara detail dan transparan, untuk mengukur hasil
sesuatu kekuasaan yang harus dipertanggung jawabkan kepada pemberi kuasa,
apakah kekuasaan dipergunakan sesuai dengan maksudnya kekuasaan atau tidak.
Pertanggung jawaban (accountability) yang transparan maksudnya adalah supaya
pertanggungjawaban pemegang kekuasaan dapat dilegitimasi oleh khalayak masyarakat
dan kelompok yang ada, apakah sudah sesuai azas manfaat (utilities) dan azas
kepentingan public (public walfare). Pengertiannya bahwa pemegang kekuasan
menurut manajemen modern bukan hanya bertanggung jawab secara material, tetapi
juga bertanggung jawab secara moral etika (ethic).
Berdasarkan teori organisasi
dinyatakan, ada bentuk kekuasaan yang ada didalam suatu bentuk struktur
organisasi, antara lain kekuasaan paksaan (coersive power), kekuasaan imbalan
(reward power), kekuasaan yang legitimet (legitimate power), kekuasaan yang
direkomendasi (reffernce power), dan kekuasaan karena keahlian (expert power),
serta kekuasaan perwakilan (representatife power). Selanjutnya kekuasaan dapat
dilihat berdasarkan jalur hirakhi, seperti kekuasaan atas dan kebawah (vertical
power), serta kesamaping (lateral and diagonal power).
- Kekuasaan Paksaan (Coersive Power) : Kekuasaan yang dengan paksaan pada dasarnya merupakan uasaha atasan terhadap bawahannya untuk melaksanakan usaha menyelesaikan pekerjaan. Mereka akan dihukum dan dibuat frustasi apabaila tidak meyelesaikan pekerjaanya. Sebagai contoh, diiliustrasikan bahwa karayawan suatu perusahaan akan merasa takut dan bersalah apabila terlambat masuk bekerja, jika ketentuan aturan tentang disiplin kerja menyatakan demikian, maka setiap karyawanyang dating terlambat tidak akan dibayar uang makan dan pengganti biaya transpor. Setiap kali dating bekerja, karyawan yang dating terlambat akan ketakutan apabila melihat bagian personalia beridiri di depan pencatat absen, dengan demikian, selnjutnya karyawan tersebut akan berusaha hadir ditempat kerja tepat waktu dan tidak terlambat, akibat paksaan oleh aturan dan disiplin tersebut. Secara positif kekuasaan paksaan ini dapat dipergunakan pada kondisi dimana karyawan belum memiliki tingkat kognisi yang memadai. Apabila kognisi karyawan semakin baik peningkatannya, maka efeksi atau perasaan sudah dapat mempertimbangkan sikap yang akan menjadi gambaran perilakunya, kondisi ini dapat dilakukan apabila ada program pendidikan dan pelatihan.
- Kekuasaan Imbalan (Reward Power) : Kekuasaan yang terbentuk karena pemberian imbalan merupakan dasar bagi pengikut (bawahan) yang mempengaruhi kapasitas kerja mereka sesuai dengan besarnya imbalan yang diterima. Imbalan dapat membuat kepuasaan bawahan untuk beberapa pemenuhan kebutuhannya. Sebagai contoh, seseorang pekerja digaji sebesar lima ratus ribu rupiah untuk memproduksi 1000 unit barang, ternyata dapat dilakukan dengan baik. Kemudian pekerja tersebut dijanjikan tambahan insentif sebesar duaratus lima puluh ribu rupiah lagi, tetapi harus dapat menambah produksi sebesar 750 unit lagi barang, dan ternyata masih dapat terselesaikan dengan baik. Pada akhirnya, pekerja dijanjikan tambahan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah lagi untuk tambahan produksi barang sebesar 750 unit barang, terakhir ini masih masih dapat dipenuhinya, tetapi sudah dengan daya yang paling maksimal. Apabila ditotal dengan imblan sebesar satu juta rupiah dapat memproduksi 2500 unit barang, sedang apabila hanya dibayar lima ratus ribu rupiah dia hanya dapat memproduksi 1000 unit barang saja, tetapi belum dalam kondisi kapasitas yang maksimal. Dengan demikian, kekuasaan dengan imbalan dapat mempengaruhi orang untuk mengikuti perintah atasannya, apabila dapat imbalan meningkat, maka kekuasaan yang dimiliki atasan kadarnya lebih kuat dan sangat berpengaruh sebagai akibat dimana peningkatan imblan ini dapat membuat tingkat kepuasan meningkat untuk sementara. Pengaruh dari kekuasaan berdasrakan paksaan dan pemberian imbalan memiliki landasan berdasarkan proses yang dipengaruhinya. Maksudnya, bahwa kekuasaan tersebut dapat terbentuk apabila mempunyai tingkat kebutuhan yang dapat mempengaruhi tuntutan pekerja, sehingga pengakuan atas kekuasaan karena paksaan dan imbalan dapat terjadi. Semakin tinggi paksaan yang dilakukan, maka kuantitas dan kualitas imbalan juga akan semakin besar. Sebaliknya, apabila unsure paksaan tidak terlalu kuat, biasanya akan diikuti imbalan yang tidak terlalu menjanjikan. Keadaan seperti ini berlaku untuk setiap keadaan, tetapi hanya berlaku pada kondisi yang didiuraikan sebelumnya,
- Kekuasaan Dilegitimasi (Legitimate Power) : Seorang raja dipatuhi disebabkan dia adalah raja, dimana dia dapat meyakinkan rakyatnya bahwa dia dikatakan untuk menjalankan perintah tuhan, seperti Raja Mesir; karena dia percaya kepada tuhan (Friederich, 1958). Selanjutnya; “ Biarkan setiap orang menyebutkan dirinya telah mendapat kekuasaan, dan tidak akan mendapat ekekuatan tanpa penobatan dari Tuhan” (Roma, 13 ayat 1). Falsafah-falsafah tersebut diatas menggambarkan bahwa kekuasaan harus direspons oleh pihak pengikutnya, apabila tidak ada respons dari pengikutnya, maka kekuasaan itu dikatakan hampa atau tanpa wibawa. Seorang prajurit akan merespons posisi komandan karena pangkatnya lebih tinggi. Pada system tradisional, seorang pengikut akan selalu merespons pimpinannya (Peabdy, 1964). Maksudnya; ditujukan kepada siapapun bahwa pengaruh seseorang adalah diasosialisasikan sebagai prediksi dari keunggulan yang besar dari penggunaan kekuasaan yang harus dilegitimasi secara tradisional.
- Kekuasaan Referensi : Pengaruh yang didasari atas rekomendasi dari kepercayaan yang tersembunyi didalam diri seorang pemimpin besar disebut sebagai “Kharisma” (Weber, 1964). Sebaga contoh, Napoleon Bonaparte atau Joan of Arc merupakan pemimpin yang kharismatik yang diakui oleh pengikutnya serta merupakan pemberian tuhan. Kepemimpinan terbentuk karena bentuk kepribadian yang ditampilkannya dapat memberi gambaran pada pengikutnya tentang pemenuhan pengharapan pengikutnya. Penampilan bukan kenyataan; bahwa kekuasaan pemimpin yang kharismatik adalah hubungan dan perilaku dengan performa. Kemampuan untuk mencapai sukses, dan dapat mengatasi kelemahan dan kegagalan yang berkelanjutan adalah bukan mistik, tetapi merupakan bentuk rekomendasi dari kekuasaan yang sudah mulai memudar (Mintzberg, 1984). Kharisma dapat membentuk penampilan yang menciptakan performa bagi seorang pemimpin di dalam mengatasi kegagalan dan kelemahan yang dimilki.
- Kekuasaan Keahlian (Expert Power) : Gambaran dari para manajer yang berskala internasional adalah dapat membuat strategi yang istimewa untuk mengatasi pengaruh-pengaruh yang sangat dominan terhadap setiap permasalahan. Dengan pendekatan pada pengaruh, diikuti dengan respons yang menyebabkan yang sangat diyakini seorang pemimpin, akan dapat diketahui apa yang akan dikatakan; seberapa besar penyebab yang mempengaruhi disbanding kemampuan yang dimiliki untuk mengetahui pengaruh itu (Albanese, 1973). Kepercayaan dari pengikut dapat terjadi sebagai akibat dari pengaruh strategi kepemimpinan untuk menciptakan popularitas, yang kemudian menjelma menjadi kepercayaan yang sangat kuat bagi pengikutnya, serta kemampuannya untuk meyakinkan atasannya dengan keahlian kepemimpinannya. Keahlian manajer memposisikan diri dapat dilihat dari dua sisi, yaitu ketika dia dipengaruhi atasannya sendiri (top manajemen), dan ketika dia mempengaruhi bawahannya. Ketika manajer dipengaruhi atasannya langsung maka : pertama; apabila dia dapat bergabung dengan konsep atasannya tersebut, antara lain mengikuti terus kemauan atasannya, dia akan menjadi sangat popular dihadapan atasannya itu. Kedua; apabila manajer hanya bersikap ramah, tetapi tidak secara penuh merespons konsep atasannya, dia masih popular, tetapi kepopulerannya tidak sekuat kondisi pertama tadi. Ketiga; apabila manajer mulai mengadakan posisi tawar menawar dengan atasannya, dia mulai tidak popular lagi dihadapan atasannya. Keempat; apabila sikap manajer mulai tegas dengan pendiriannya, untuk menilai konsep atasannya, maka dia semakin tidak popular lagi dihadapan atasannya. Terakhir; manajer bertindak dengan kewenangan penuh sesuai uraian tugas dan tanggung jawabnya (job describition), didalam menilai konsep atasannya, maka sikap dan penilaian atasannya terhadap manajer tersebut sudah benar-benar tidak popular lagi, disebabkan kemungkinan akan banyak perintah atasan yang tidak harus dilakukan apabila manajer menilaikan berdasarkan tugasnya :
a) Keahlian Menganalisis Risiko
Pada umumnya pasien (orang sakit) akan lebih yakin dan
percaya apabila berobat ke dokter yang telah berpengalaman (specialist), yang
telah meiliki rekor penyembuhan orang sakit, dibandingkan kepada dokter yang
baru yang belum banyak pengalaman. Demikian juga pengikut (bawahan), akan lebih
mengakui pimpinannya apabila pimpinan itu telah banyak pengalaman dan mampu
untuk menganalisis serta memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi, umpamanya
memperkecil risiko kecelakaan kerja serta memperkecil kerugian materi bagi
bawahannya.
b) Meyakinkan Pengikut (Bawahan)
Pemimpin yang mampu meyakinkan pengikutnya (bawahan) secara
rasional akan dapat menjelaskan bagaimana kativitas harus dilakukan dengan
suatu performa yang minimal harus dimilki. Pengikut akan mematuhi atasannya
apabila pengikut diberi pengertian serta alas an mengapa di dalam pelaksanaan
sesuatu tugas dibutuhkan suatu kesepakatan didalam menentukan sasaran dan
tujuan dari kelompoknya.
- Kekuasaan Perwakilan (Representative Power) : Kekuasaan perwakilan (representative power) merupakan kekuasaan yang diperoleh karena pemegang kekuasaan tersebut dipercaya kelompok sebagai delegasi untuk menyelesaikan tuntutan dan harapan pengikutnya. Pendelegasian kekuasaan kepada pimpinan dimungkinkan sepanjang bawahan mengetahui batas kemampuan pimpinan yang dilegitimasi tersebut. Sebaliknya, apabila bawahan sudah mengetahui kemampuan dari pimpinan itu tidak layak untuk menerima delegasi kekuasaan, maka kelompok atau pengikut akan menarik kepercayaannya dan tidak lagi mengakui kekuasaan pemimpin itu.
PENDELEGASIAN
Pendelegasian
(pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen penting dalam fungsi
pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan menerima prinsip-prinsip delegasi
agar menjadi lebih produktif dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya.
Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada
bawahannya.
ASAS – ASAS PENDELEGASIAN
- Asas Kepercayaan
- Asas Delegasi Atas Hasil yang Diharapkan
- Asas Penentuan fungsi dan Kejelasan Tugas
- Asas Rantai Berkala (Principle Scolar of Chain)
- Asas Tingkat Wewenang (The Authority Level Participle)
- Asas Kesatuan Komando (principle Unity of Command)
- Asas Keseimbangan Wewenang & Tanggung Jawab (Parity Of Authority & Responsibility )
- Asas Pembagian Kerja (Devision of Work)
- Asas Efisiensi
- Asas Kemutlakan Tanggung Jawab (Principle of Authority of Responsibility)
Syarat-Syarat Pendelegasian
Agar pendelegasian wewenang dapat
berhasil dengan baik, sesuai dengan tujuan, maka harus dilakukan dengan tepat
atau baik pula.
Adapun syarat-syaratnya seperti yang
dikemukakan oleh Drs. Sutrisno :
- Adanya kesediaan atau keikhlasan atasan untuk memberikan pelimpahan.Dengan kesediaan dan keikhlasan yang tulus akan menimbulkan hubungan kejiwaan yang dekat antara atasan dan bawahan tersebut hal ini penting dalam usaha menimbulkan perasaan rasa percaya di antara keduanya.
- Tiap-tiap bawahan yang mendapat pelimpahan harus mempertimbangkan kemampuannya. Wewenang yang diserahkan kepada bawahan harus sesuai dengan kemampuan bawahan. Di samping bawahan harus mengukur kemampuan sendiri, atasan harus pula menimbang-nimbang kemampuan dalam hubungannya dengan wewenang yang akan dilimpahkan, baik kemampuan jasmaniah maupun kemampuan rokhaniah.Dengan demikian tidak akan terjadi wewenang yang dilimpahkan tidak sesuai dengan kemampuan bawahan, sebab apabila tidak sesuai akan dapat menimbulkan resiko, yang pada akhirnya juga akan ditanggung atasan bersangkutan.
- Tugas dan wewenang yang diserahkan harus jelas, bawahan mengerti keinginan atasan dengan adanya pelimpahan itu. Tugas, wewenang demikian pula tanggung jawabnya harus dirumuskan dengan jelas. Ketidakjelasan akan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam realisasinya, karena tidak tahu arah atau batas-batas yang boleh dan tidak dapat dilakukan. Demikian pula harus diketahui oleh bawahan kecenderungan dari pada keinginan-keinginan atasan yang melimpahkan wewenang, demikian itu agar pelaksanaan tugas dan wewenang mengarah kepada tujuan yang ditentukan oleh atasan.
- Pelimpahan yang telah diberikan tidak boleh diperlemah oleh atasan, yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan. Setelah pelimpahan dilakukan, atasan jangan selalu mencampurinya, lebih-lebih mencampuri secara demonstratif yang demikian akan mengakibatkan keresahan jiwa dan justru akan dapat mengakibatkan patah semangat bagi bawahan.
Ada empat kegiatan dalam delegasi wewenang:
1.
Manager perawat/bidan
menetapkan dan memberikan tugas dan tujuannya kepada orang yang diberi
pelimpahan;
2.
Manajer melimpahkan
wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan;
3.
Perawat/bidan yang
menerima delegasi baik eksplisit maupun implisit menimbulkan kewajiban dan
tanggung jawab.
4.
Manajer perawat/bidan
menerima pertanggungjawaban (akontabilitas) atas hasil yang telah dicapai.
ALASAN PENDELEGASIAN
Ada beberapa alasan mengapa pendelegasian diperlukan.
1.
Pendelegasian
memungkinkan manajer perawat/bidan mencapai hasil yang lebih baik dari pada
semua kegiatan ditangani sendiri.
2.
Agar
organisasi berjalan lebih efisien.
3. Pendelegasian
memungkinkan manajer perawat/bidan dapat memusatkan perhatian terhadap
tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
4. Dengan
pendelegasian, memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan dapat
dipergunakan sebagai bahan informasi untuk belajar dari kesalahan atau
keberhasilan
TEKNIK PENDELEGASIAN
Manajer
perawat/bidan pada seluruh tingkatan dapat menyiapkan tugas-tugas yang dapat
didelegasikan dari eksekutif perawat sampai eksekutif departemen atau kepala
unit, dan dari kepala unit sampai perawat/bidan klinis. Delegasi mencakup
kewenangan untuk persetujuan, rekomendasi atau pelaksanaan. Tugas-tugas
seharusnya dirangking dengan waktu yang diperlukan untuk melaksanakannya dan
sebaiknya satu kewajiban didelegasikan
pada satu waktu.
KAPAN PERLU DILAKUKAN DELEGASI
Hindari mendelegasikan kekuasaan dan tetap mempertahankan
moral dalam pelaksanaannya. Kontrol
dilakukan khusus pada pekerjaan yang
sangat teknis atau tugas tugas yang melibatkan kepercayaan. Hal ini merupakan
hal yang kompleks dalam manajemen keperawatan/kebidanan, sehingga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang
khusus. Manajer perawat/bidan yang akan menangani hal tersebut seharusnya memiliki kemampuan ilmu manajemen
dan perilaku. Mendelegasikan tugas dan
tanggung jawab dapat menyebabkan
perawat/bidan klinis berasumsi bahwa manajer tidak mampu untuk menangani
tanggung jawab kepemimpinannya
terhadap manajemen
keperawatan/kebidanan.
HAMBATAN-HAMBATAN PENDELEGASIAN
HAMBATAN-HAMBATAN PADA DELEGATOR
·
Kemampuan yang
diragukan oleh dirinya sendiri
·
Meyakini bahwa seseorang “mengetahui semua rincian”
“Saya dapat melakukannya lebih baik oleh diri saya sendiri” buah pikiran yang
keliru.
·
Kurangnya
pengalaman dalam pekerjaan atau dalam mendelegasikan
·
Rasa tidak aman
·
Takut tidak disukai
·
Penolakan untuk
mengakui kesalahan
·
Kurangnya kepercayaan
pada bawahan
·
Kesempurnaan,
menyebabkan kontrol yang berlebihan
·
Kurangnya
ketrampilan organisasional dalam menyeimbangkan beban kerja
·
Kegagalan
untuk mendelegasikan kewenangan yang sepadan dengan tanggung jawab.
·
Keseganan untuk
mengembangkan bawahan
·
Kegagalan untuk
menetapkan kontrol dan tindak lanjut
yang efektif.
HAMBATAN-HAMBATAN
YANG DIBERI DELEGASI
·
Kurangnya pengalaman
·
Kurangnya kompetensi
·
Menghindari tanggung
jawab
·
Sangat tergantung
dengan boss
·
Kekacauan [disorganization]
·
Kelebihan beban kerja
·
Terlalu
memperhatikan hal hal yang kurang bermanfaat
HAMBATAN-HAMBATAN DALAM SITUASI
·
Kebijakan tertuju pada
satu orang
·
Tidak ada toleransi
kesalahan
·
Kekritisan keputusan
·
Urgensi,
tidak ada waktu untuk menjelaskan [krisis manajemen]
·
Kebingungan
dalam tanggung jawab dan kewenangan.
·
Kekurangan tenaga
DAFTAR PUSTAKA
Charles J. Keating. 1991. Kepemimpinan
teori dan Pengembanganya. Yogyakar Kanisius
Harold L. Tailor. 1993. Delegasi Kunci
Managemen Yang Berhasil. Jakarta :Bina Rupa aksara
Jenks. 1991. Delegasi Dalam
Managemen Perusahan. Jakarta : Bina Aksara.
Josep T. Straub. 2006. Seri
Managemen Mendelegasikan Pekerjaan. Yogyakarta :Oryza.
P. Nowen. 2000. Mencari Makna
Kekuasaan. Yogyakarta : Kan
Handoko, T.Hani, Dr., MBA., 1997, “Manajemen" BPFE-Yogyakarta
Swansburg, R., 1996 , "Management
and Leadership for Nurse Manager",
Jones
&Bartlet Publishing International
evie kusumaningrum kel 1
BalasHapustanya: saya belum paham ttg delegasi, tolong jelaskan secara singkat dan mudah saya pahami,,, terimakasih,,
dewi paramitasari kel 4
BalasHapusmau tanya mengapa disetiap ruangan dalam sebuah rumah sakit sering sekali kita temui delegasi dari perawat satu ke perawat lain,bagaimana caranya untung menghilangkan delegasi itu dalam diri masing2 perawat jadi perawat mempunyai tangung jawab sendiri2 atas tugasnya dan bisa bekerja sama dengan baik terimakasih,,,,,,,,
diaisma(5): tolong jelaskan keuntungan dan kerugian dari pendelegasian!!!!!
BalasHapusdiani kel 5 :
BalasHapusjika pendelegasian yang anda lakukan gagal atau tidak berhasil apa yang akan anda lakukan, tolong jelaska.........?????????
makasih
diani kel 5 :
BalasHapuspendelegasian yang paling baik dan tepat itu yang bagaimana, tolong jelaskan ?
makasih
dewi purwanti kel 5 ;
BalasHapustolong jelaskan batasan - batasan atau patokan dalam melakukan pendelegasian ??????
makasih
saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mb' evi. menurut kelompok kami delegasi adalah pemberian sebagaian tugas (tanggung jawab) dan kewibawaan dari seorang pemimpin kepada bawahannya dalam suatu organisasi...(eni)
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan mbak dewi paramita,sebelumnya terimakasih atas pertanyaannya, setelah melihat cerita anda, menurut kami yang terjadi disitu bukan delegasi(pendelegasian) tetapi kondisi saling membantu / tolong menolong antar perawat, karena delegasi itu terjadi antara pimpinan kepada bawahannya, dan untuk bisa bekerja sama dengan baik mungkin perlu intropeksi diri masing-masing atau konsekwensi bagi yang meninggalkan tanggung jawabnya, sekian mb' mita, kalo kurang mungkin bisa disanggah atau ditambahi... (eni.s)
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbak diani(kel.5),keuntungan delegasi yaitu:
BalasHapus1.Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya.
2.Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan pada unit yang tepat.
3.Inisiatiif dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi.
4.Mendidik dan mengembangkan bawahan sehigga mampu diberi beban tugas yang lebih besar dan berat lagi nantinya.
dan kerugiannya
1. terjadinya kekacauan bila yang didelegasikan tidak bertanggungjawab.
2. pekerjaan bawahan bertambah(tanggungjawab bertambah)
3. Kebijakan tertuju pada satu orang
4. Tidak ada toleransi kesalahan
6. Kebingungan dalam tanggung jawab dan kewenangan. (eni.s)kalau kurang bisa ditambahi atau bisa disanggah,,hee,terimakasih
saya akan menjawab pertanyaan mb dia isma:
BalasHapuskeuntungan:pekerjaan jauh lebih mudah dan memakan waktu sedikit
kerugian: jika ada kesalahan dalam pekerjaan kita yang di slahkan.(erni purwani)