Disusun Oleh :
Dwi Teguh A.S
Dwi Muntari
Eka Lestari
Eko Septiani
Ela Fatmawati
Erni Purwani
Eni Susanti
SUPERVISI
Pengertian
Supervisi
mempunyai pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi segalam bantuan dari pemimpin/penanggung
jawab keperawatan yang tertuju untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya
dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan. Kegiatan supervisi semacam ini adalah
merupakan dorongan, bimbingan dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan
kecakapan para perawat.
Prajudi
Atmosudiro (1982), Supervisi diartikan sebagai pengamatan atau pengawasan
secara langsung terhadap pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya rutin.
Swansburg
(1999), Supervisi adalah suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan
untuk penyelesaian tugas-tugasnya.
Manfaat Supervisi
Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan
diperoleh banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut
(Suarli & Bachtiar, 2009) :
1) Supervisi
dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja ini erat
hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta
makin terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan
dan bawahan.
2) Supervisi
dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan efesiensi kerja ini erat
kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga
pemakaian sumber daya (tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat
dicegah.
Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama
artinya dengan telah tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari
supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan
secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan
yang telah ditetapkan organisasi dapat dicapai dengan memuaskan (Suarli &
Bachtiar, 2008).
Prinsip-prinsip Pokok dalam
Supervisi
- Tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatakan kinerja bawahan, bukan untuk mencari kesalahan. Peningkatan kinerja ini dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap pekerjaan bawahan, untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan untuk mengatasinya.
- Sejalan dengan tujuan utama yang ingin dicapai, sifat supervisi harus edukatif dan suportif, bukan otoriter.(Suarli dan Bahtiar, 2009).
Tujuan
Tujuan supervisi adalah pemenuhan
dan peningkatan pelayananan pada klien dan keluarga yang berfokus pada kebutuhan,
ketrampilan dan kemampuan perawat dalam melaksanakan tugas.
Swansburg & Swansburg (1999) menyatakan bahwa tujuan supervisi keperawatan antara lain:
Swansburg & Swansburg (1999) menyatakan bahwa tujuan supervisi keperawatan antara lain:
- Memperhatikan anggota unit organisasi disamping itu area kerja dan pekerjaan itu sendiri.
- Memperhatikan rencana, kegiatan dan evaluasi dari pekerjaannya.
- Meningkatkan kemampuan pekerjaan melalui orientasi, latihan dan bimbingan individu sesuai kebutuhannya serta mengarahkan kepada kemampuan ketrampilan keperawatan.
Sasaran supervisi
Sasaran yang harus dicapai dalam
supervisi adalah sebagai berikut:
- Pelaksanan tugas sesuai dengan pola
- Struktur dan hirarki sesuai dengan rencana
- Staf yang berkualitas dapat dikembangkan secara kontinue/sistematis
- Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis.
- Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
- Pembagian tugas, wewenang ada pertimbangan objek/rational
- Tidak terjadi penyimpangan/penyelewengan kekuasaan, kedudukan dan keuangan.
Fungsi Supervisi
- Dalam keperawatan fungsi supervisi adalah untuk mengatur dan mengorganisir proses pemberian pelayanan keperawatan yang menyangkut pelaksanaan kebijakan pelayanan keperawatan tentang standar asuhan yang telah disepakati.
- Fungsi utama supervisi modern adalah menilai dalam memperbaiki factor-factor yang mempengaruhi proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan.
- Fungsi utama supervisi dalam keperawatan adalah mengkoordinasikan, menstimuli, dan mendorong ke arah peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
- Fungsi supervisi adalah membantu (assisting), memberi support (supporting) dan mangajak untuk diikutsertakan (sharing).
Model – model supervisi
Selain cara supervisi yang telah diuraikan, beberapa
model supervisi dapat diterapkan dalam kegiatan supervisi antara lain (Suyanto,
2008):
1.
Model
konvensional
Model supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung
untuk menemukan masalah dan kesalahan dalam pemberian asuahan keperawatan.
Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan dan memata-matai staf dalam
mengerjakan tugas. Model ini sering tidak adil karena hanya melihat sisi
negatif dari pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan para perawat pelaksana
sehingga sulit terungkap sisi positif, hal-hal yang baik ataupun keberhasilan
yang telah dilakukan
2.
Model
ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang
sudah direncanakan sehingga tidak hanya mencari kealahan atau masalah saja.
Oleh karena itu supervisi yang dilakukan dengan model ini
memilki karasteristik sebagai
berikut yaitu, dilakukan
secaraberkesinambungan, dilakukan dengan prosedur, insrument dan standar supervisi yang baku,
menggunakan data yang objektif sehingga dapat diberikan umpan balik dan
bimbingan.
3.
Model Klinis
Supervisi model klinis bertujuan untuk
membantu perawat pelaksana dalam mengembangkan profesionalisme sehingga
penampilan dan kinerjanya dalam pemberian asuahn keperawatan meningkat.
Supervisi dilakukan secara sistematis melalui pengamatan pelayanan keperawatan
yang diberikan oleh seorang perawat selanjutnya dibandingkan dengan standar
keperawatan.
4.
Model
artistic
Supervisi model artistic dilakukan dengan
pendekatan personal untuk menciptakan rasa aman sehingga supervisor dapat
diterima oleh perawat pelaksana yang disupervisi. Dengan demikian akan tercipta
hubungan saling percaya sehingga hubungna antara perawat dan supervisor akan
terbuka dam mempermudah proses supervisi.
Karakteristik Supervisi
- Mencerminkan kegiatan asuhan keprawatan yang sesungguhnya
- Mencerminkan pola organisasi/struktur organisasi keperawatan yang ada
- Kegiatan yang berkesinambungan yang teratur atau berkala
- Dilaksanakan oleh atasan langsung (Kepala unit/Kepala Ruangan atau penanggung jawab yang ditunjuk)
- Menunjukkan kepada kegiatan perbaikan dan peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
Langkah – langkah supervisi
1 Pra supervise
a) Supervisor menetapkan kegiatan yang
akan disupervisi.
b) Supervisor menetapkan tujuan
2 Supervisi
a) Supervisor menilai kinerja perawat
berdasarkan alat ukur atau instrumen yang telah disiapkan.
b) Supervisor mendapat beberapa hal
yang memerlukan pembinaan.
c) Supervisor memanggil Perawat Primer
dan Perawat Associste untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
d) Supervisor mengklarifikasi
permasalahan yang ada.
e) Supervisor melakukan tanya jawab
dengan Perawat Primer dan Perawat Associate
f)
Supervisor
memberikan masukan dan solusi pada Perawat Primer dan Perawat Associate
g) Supervisor memberikan reinforcement
pada Perawat Primer dan Perawat Associate.
Tehnik Supervisi
1 Proses supervisi keperawatan terdiri
dari 3 elemen kelompok, yaitu :
a) Mengacu pada standar asuhan
keperawatan.
b) Fakta pelaksanaan praktek
keperawatan sebagai pembanding untuk menetapkan pencapaian.
c) Tindak lanjut dalam upaya memperbaiki
dan mempertahankan kualitas asuhan.
2 Area Supervisi.
a) Pengetahuan dan pengertian tentang
klien.
b) Ketrampilan yang dilakukan
disesuaikan dengan standar.
c) Sikap penghargaan terhadap pekerjaan
misalnya kejujuran, empati
3 Cara Supervisi
Supervisi dapat dilakukan melalui
dua cara, Yaitu:
a) Langsung.
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang
berlangsung, dimana supervisor dapat terlibat dalam kegiatan, feed back dan
perbaikan. Supervisi dilakukan secara langsung
pada kegiatan yang sedang berlangsung, dimana supervisor dapat terlibat dalam
kegiatan, feed back dan perbaikan.
Adapun prosesnya
adalah:
1)
Perawat pelaksana
melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan didampingi oleh supervisor.
2) Selama
proses, supervisor dapat memberi dukungan, reinforcement dan petunjuk.
3) Setelah
selesai, supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi yang bertujuan
untuk menguatkan yang telah sesuai dan memperbaiki yang masih kurang.
Reinforcement pada aspek yang positif sangat penting dilakukan oleh supervisor.
b) Supervisi
secara tidak langsung :
Supervisi dilakukan
melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Supervisor tidak melihat langsung
apa yang terjadi dilapangan sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan
balik dapat diberikan secara tertulis.
Pelaksana supervisi keperawatan
- Kepala ruangan - Pengawas perawatan (supervisor)
- Kepala bidang keperawatan
Kompetensi Supervisor Keperawatan
- Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat dimengerti oleh staf dan pelaksana keperawatan.
- Memberikan saran, nasehat dan bantuan kepada staf dan pelaksanan keperawatan.
- Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja kepada staf dan pelaksanan keperawatan.
- Mampu memahami proses kelompok (dinamika kelompok).
- Memberikan latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan pelaksana keperawatan.
- Melakukan penilaian terhadap penampilan kinerja perawat.
- Mengadakan pengawasan agar asuhan keperawatan yang diberikan lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar