Jogjaaa

Jogjaaa
dolan2

Rabu, 23 November 2011

KETENAGA KERJAAN DAN CARA PERHITUNGAN KERJA


A.    Ketenagakerjaaan
Hakekat ketenagakerjaan adalah pengaturan,mobilisasi potensi,proses motivasi,dan pemngembangan sumber daya manusia dalam memenuhi kepuasan melalui karyanya. Hal ini berguna untuk tercapainya tujuan individu,organisasi, ataupun komunitas dimana ia berkarya.
1.      Perekrutan dan seleksi tenaga kerja
Langkah pertama pada perekrutan tenaga kerja adalah menstimulasi calon untuk mengisi posisi yang dibutuhkan. Hal ini tidak sederhana karena tidak hanya segi teknis, susunan dan tujuan organisasi.
Dalam perekrutan, ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a.       Profil keperawatan saat ini
b.      Program perekrutan
c.       Metode perekrutan
d.      Program pengembangan tenaga baru
e.   Prosedur penerimaan,yang melalui tahap seleksi,penentuan kualifikasi dasar seleksi,proses seleksi, dan prosedur lamaran.
Selain lima hal perekrutan di atas, hal yang perlu diperhatikan adalah :
  • Syarat yang harus dipenuhi dalam perekrutan, yaitu : data biografi,surat rekomendasi dari perusahaan/instansi dimana calon bekerja sebelumnya, wawancara,psikotes.
  • Orientasi dan pengembangan dalam kaitanya dengan perekrutan
  • Penghargaan yang bisa diberikan pada pegawai .
 2.     Pengembangan staf
Tujuan pengembangan staf ini adalah membantu individu meningkatkan diri dalam pengetahuan,ketrampilan,serta pengalaman di bidangnya, melalui kegiatan pendidikan berkelanjutan,program pelatihan,dal lain sebagainya.

B.     Metode Penugasan
Prinsip pemilihan metode penugasan adalah : jumlah tenaga, kualifikasi staf dan klasifikasi pasien. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut :
  1. Metode Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi, misalnya merawat luka kepada semua pasien di bangsal.
Kelebihan :
1.    Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelas dan pengawasan yang baik.
2.    Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga.
3.   Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman.

Kelemahan :
1.      Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
2.      Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
3.      Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.

  1. Metode Perawatan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif (Douglas, 1992).

Tujuan Metode Tim :
1.      Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif
2.      Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar
3.      Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda.

Konsep Metode Tim :
1. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.
2.     Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
3.     Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
4.   Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik jika didukung oleh kepala ruang.

Kelebihan :
1.     Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
2.     Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
3. Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim.



Kelemahan :
1.      Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang
     biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu )
2.      Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk
3.      bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu
4.      Jika pembagian tugas tidak jelas, maka tanggung jawab dalam tim kabur












Kepala Ruang

 







 










Staf Perawat
 
Staf Perawat
 
Staf Perawat
 
 










 






  1. Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
Konsep dasar metode primer :
1.      Ada tanggungjawab dan tanggunggugat
2.      Ada otonomi
3.      Ketertiban pasien dan keluarga

Kelebihannya :
1.      Model praktek profesional
2.      Bersifat kontinuitas dan komprehensif
3.      Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
4.      memungkinkan pengembangan diri → kepuasan perawat
5.      Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya

Kelemahannya :
1.  Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2.      Biaya lebih besar

  1. Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.

Kelebihan :
1.      Perawat lebih memahami kasus per kasus
2.      Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah

Kekurangan :
1.      Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab
2.      Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama

Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) dan Anggota Tim
Secara umum, masing kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, antara lain :
1.      Tanggung Jawab Karu :
a.       Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
b.      Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
c.       Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan managemen
d.      Mengorientasikan tenaga baru
e.       Menjadi narasumber bagi tim
f.       Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset keperawatan
g.      Menciptakan iklim komunikasi terbuka
2) Tanggung Jawab Katim :
a.       Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
b.      Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana keperawatan (renpra),
c.       menerapkan tindakan keperawatan dan mengevaluasi renpra
d.      Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yang konsisten
e.       Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas asuhan keperawatan melalui konfrens
f.       Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggota tim
g.      Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
3) Tanggung Jawab Anggota Tim :
a.       Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
b.      Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasien
c.       Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada di tempat
d.      Berkontribusi thd perawatan
§  observasi terus menerus
§  ikut ronde keperawatan
§  berinterkasi dgn pasien & keluarga
§  berkontribusi dgn katim/karu bila ada masalah
C.     Dalam menentukan kebutuhan tenaga keperawatan harus memperhatikan beberapa
faktor yang terkait beban kerja perawat, diantaranya seperti berikut :
¢  Jumlah klien yang dirawat/hari/bulan/tahun dalam suatu unit
¢  Kondisi atau tingkat ketergantungan klien
¢  Rata-rata hari perawatan klien
¢  Pengukuran perawatan langsung dan tidak langsung
¢  Frekuensi tindakan yang dibutuhkan
¢  Rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak langsung
¢  Pemberian cuti

D.    Menurut Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) membagi klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan menggunakan standar sebagai berikut:
¢  Kategori I : self care/perawatan mandiri, memerlukan waktu 1-2 jam/hari
¢  Kategori II : Intermediate care/perawatan partial, memerlukan waktu 3-4 jam/hari
¢  Kategori III : Total care/Intensif care, memerlukan waktu 5-6 jam/hari

E.     Cara Perhitungan Jumlah dan Kategori Tenaga Keperawatan
  1. Metode Douglas
  2. Metode Sistem Akuitas
  3. Metode Gillies
  4. Metode Swansburg

1.      Metode Douglas
Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masingmasing kategori mempunyai nilai standar per shift nya, yaitu sebagai berikut :

Jmlh klien
Klasifikasi Klien
Minimal
Parsial
Total
P
S
M
P
S
M
P
S
M
1.
0.17
0.14
0.07
0.27
0.15
0.10
0.36
0.30
0.20
2.
0.34
0.28
0.14
0.54
0.30
0.20
0.72
0.60
0.40
3.
0.51
0.42
0.21
0.81
0.45
0.30
1.08
0.90
0.60
Dst.










Contoh :
Ruang rawat dengan 17 orang klien, dimana 3 orang dengan ketergantungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6 orang dengan ketergantungan total.

Minmal
Partial
Total
Jumlah
Pagi
0.17 x 3 = 0.51
0.27 x 8 = 2.16
0.36 x 6 = 2.16
4.83 (5  orang)
Siang
0.14 x 3 = 0.42
0.15 x 8 = 1.2
0.3 x 6 = 1.8
3.42 (4 orang )
Malam
0.07 x  3 = 0.21
0.10 x 8 = 0.8
0.2 x 6 = 1.2
2.21 ( 2 orang)
Jumlah secara keselurahan perawat perhari
11    rang


2.      Metode Sistem Akuitas
Kelas I                         : 2 jam per hari
Kelas II                       : 3 jam per hari
Kelas III                      : 4,5 jam per hari
Kelas IV                      : 6 jam per hari
Untuk tiga kali pergantian shift ―> Pagi : Sore : Malam = 35% : 35% : 50%

Contoh
¢  Rata – rata jumlah klien  :
            1. Kelas I         = 3 orang x 2 jam/hari      = 6 jam
            2. Kelas II       = 8 orang x 3 jam/hari      = 24 jam
            3. Kelas III      = 4 orang x 4.5 jam/hari  = 18 jam
            4. Kelas IV      = 2 orang x 6 jam/hari      = 12 jam
            Jumlah jam                                                           = 60 jam

¢  Pagi/sore = 60 jam x 35% / 8 jam = 2.625 orang (3 org)
¢  Malam = 60 jam x 30% / 8 jam = 2.25 orang (2 org)
     Jadi jumlah perawat dinas 1 hari 3+3+2 = 8 orang

3.      Metode Gillies
Gillies (1994) menjelaskan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di suatu unit perawatan
adalah sebagai berikut :


Jumlah jam keperawatan                    rata rata                     jumlah
Yang dibutuhkan klien/hari      x       klien/hari         x    hari/tahun
Jumlah hari/tahun                     -    hari libur             x    jumlah jam kerja
                                                   Masing masing           tiap perawat
          Perawat
= jumlah keperawatan yang dibutuhkan per tahun : jumlah jam keperawatan yang di berikan perawat/tahun
= jumlah perawat di satu unit

Prinsip perhitungan rumus Gillies :
Jumlah Jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari adalah :
1) waktu keperawatan langsung (rata rata 4-5 jam/klien/hari) dengan spesifikasi
pembagian adalah : keperawatan mandiri (self care) = ¼ x 4 = 1 jam , keperawatan
partial (partial care ) = ¾ x 4 = 3 jam , keperawatan total (total care) = 1-1.5 x 4 = 4-6
jam dan keperawatan intensif (intensive care) = 2 x 4 jam = 8 jam.
2) Waktu keperawatan tidak langsung
menurut RS Detroit (Gillies, 1994) = 38 menit/klien/hari
menurut Wolfe & Young ( Gillies, 1994) = 60 menit/klien/hari = 1 jam/klien/hari
3) Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien = 0,25 jam/hari/klien
4) Rata rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdasarkan rata
rata biaya atau menurut Bed Occupancy Rate (BOR) dengan rumus :
Jumlah hari perawatan RS dalam waktu tertentu x 100 %
Jumlah tempat tidur x 365 hari
Jumlah hari pertahun yaitu : 365 hari.
Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu : 73 hari ( hari minggu/libur =
52 hari ( untuk hari sabtu tergantung kebijakan rumah sakit setempat, kalau ini
merupakan hari libur maka harus diperhitungkan , begitu juga sebaliknya ), hari
libur nasional = 13 hari, dan cuti tahunan = 8 hari).
Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif 6
hari maka 40/6 = 6.6 = 7 jam per hari, kalau hari kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8
jam per hari)
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan disatu unit harus ditambah 20%
(untuk antisipasi kekurangan /cadangan ).
Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 %
Contoh :
Rata rata jam perawatan klien per hari = 5 jam/hari
Rata rata = 17 klien / hari (3 orang dengan ketergantungan minimal, 8 orang dengan
ketergantungan partial dan 6 orang dengan ketergantungan total)
Jumlah jam kerja tiap perawat = 40 jam/minggu ( 6 hari/minggu ) jadi jumlah jam kerja
perhari 40 jam dibagi 6 = 7 jam /hari
Jumlah hari libur : 73 hari ( 52 +8 (cuti) + 13 (libur nasional)
Jumlah jam keperawatan langsung
- Ketergantungan minimal = 3 orang x 1 jam = 3 jam
- Ketergantungan partial = 8 orang x 3 jam = 24 jam
- Ketergantungan total = 6 orang x 6 jam = 36 jam
Jumlah jam = 63 jam
Jumlah keperawatan tidak langsung
17 orang klien x 1 jam = 17 jam
Pendidikan Kesehatan = 17 orang klien x 0,25 = 4,25 jam

Sehingga Jumlah total jam keperawatan /klien/hari :
63 jam + 17 jam + 4,25 jam = 4,96 Jam/klien/hari
17 orang
Jumlah tenaga yang dibutuhkan :
4,96 x 17 x 365 = 30.776,8 = 15,06 orang ( 15 orang )
(365 – 73) x 7 2044
Untuk cadangan 20% menjadi 15 x 20% = 3 orang
Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan 15 + 3 = 18 orang /hari
Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional =
55% : 45 % = 10 : 8 orang
d. Metode Swansburg
Contoh :
Pada suatu unit dengan 24 tempat tidur dan 17 klien rata rata perhari .
Jumlah jam kontak langsung perawat – klien = 5 jam /klien/hari.
1) total jam perawat /hari : 17 x 5 jam = 85 jam
jumlah perawat yang dibutuhkan : 85 / 7 = 12,143 ( 12 orang) perawat/hari
2) Total jam kerja /minggu = 40 jam
jumlah shift perminggu = 12 x 7 (1 minggu) = 84 shift/minggu
jumlah staf yang dibutuhkan perhari = 84/6 = 14 orang
(jumlah staf sama bekerja setiap hari dengan 6 hari kerja perminggu dan 7 jam/shift)
Menurut Warstler dalam Swansburg dan Swansburg (1999), merekomendasikan untuk
pembagian proporsi dinas dalam satu hari → pagi : siang : malam = 47 % : 36 % : 17 %
Sehingga jika jumlah total staf keperawatan /hari = 14 orang
- Pagi : 47% x 14 = 6,58 = 7 orang
- Sore : 36% x 14 = 5,04 = 5 orang
- Malam : 17% x 14 = 2,38 = 2 orang



DAFTARA PUSTAKA

Suarli & bahtiar.2002. Manajemen Keperawatan.Jakarta:EMS.
Kuntoro, Agus. 2010. Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar