Jogjaaa

Jogjaaa
dolan2

Rabu, 23 November 2011

MPKP


A.    Pengertian MPKP
Model Praktek Keperawatan Profesional adalah suatu sistem (struktur, proses, dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawatan profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian asuhan tsb (Hoffart & Woods, 1996).
B.     Komponen MPKP:
  1. Nilai-nilai profesional
  2. Hubungan antar professional
  3. Metode pemberian asuhan keperawatan
  4. Pendekatan manajemen
  5. Penghargaan
C.     Manfaat MPKP;
  Dapat meningkatkan mutu askep
  Untuk menata tenaga keperawatan dlm upaya menuju layanan yg profesional
  Untuk proses belajar bagi mahasiswa keperawatan
  Untuk menunjang program pendidikan ners spesialis keperawatan.
  Untuk tempat penelitian keperawatan.
D.    Langkah-langkah tahap  pelaksanaan MPKP:
  1. Pelatihan tentang MPKP.
  2. Memberi bimbingan kepada PP dlm konferensi.
  3. Memberi bimbingan pd PP dlm ronde dg PA.
  4. Memberi bimbingan pd PP dlm standar renpra.
  5. Memberi bimbingan pd PP dlm membuat kontrak / orientasi dg klien / klg.
  6. Memberi bimbingan PP dlm presentasi kasus dalam tim.
  7. Memberikan bimbingan pd CCM dlm membimbing PP dan PA.
  8. Memberi bimbingan pd tim ttg dokumentasi askep.
E.     MODEL DAN BENTUK PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL METODE PRIMER
Tujuan Model Kepeawatan
  • Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
  • Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawata.
  • Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
  • Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.
  • Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.
Pelayanan Kesehatan Primer
Dalam penilainan tahunannya tentang kesehatan dunia, para delegasi yang menghadiri pertemuan ke 28 World Health Assembly di Geneva telah memutuskan bahwa situasi global sekarang ini tidak sehat. Sejumlah contoh dari berbagai belahan dunia telah meyakinkan mereka bahwa penggunaan suatu pendekatan yang disebut PHC, dapat berkontribusi sangat besar dalam membebaskan seluruh masyarakat dari penderitaan yang terabaikan, nyeri, ketidakmampuan dan kematian. Masyarakat global dapat terjamin, banyak beban berat dari berbagai penderitaan dan kematian yang tidak diinginkan oleh jutaan orang diseluruh dunia dapat dicegah melalui penerapan konsep PHC (Bryant,1969;Newell,1975).
Metode Keperawatan Primer
Metode ini pertama kali diperkenalkan di Inggris oleh Lydia Hall (1963) ini merupakan sistem dimana seorang perawat bertanggung jawab selama 24 Jam sehari, 7 hari per minggu,ini merupakan metode yang memberikan perawatan secara komprehensif, individual dan konsisten. Metode keperawatan primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilan manajemen. Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap kebutuhan pasien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan, dan mengevaluasi keefektivitasan perawatan. Sementara perawat yang lain menjalankan tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasi perawatan dan menginformasikan tentang kesehatan pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Keperawatan Primer melibatkan semua aspek peran profesional, termasuk pendidikan kesehatan, advokasi, pembuatan keputusan, dan kesinambungan perawatan. Perawat primer merupakan manager garis terdepan bagi perawatan pasien dengan segala akuntabilatas dan tanggung jawab yang menyertainya.
F.     Model dan Bentuk Praktik Keperawatan Profesional Metode Tim
Model dan Bentuk Praktik Keperawatan Profesional Metode Tim.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim / grup yang terdiri dari tenaga profesional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.
Kelebihan :
  • Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
  • Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
  • Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan pada anggota tim.
Kelemahan :
  • Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
  •  Akuntabilitas pada tim.
Konsep metode tim :
  • Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan.
  • Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
  • Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
  • Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh Kepala Ruang.
Tanggungjawab anggota tim :
a.       Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dibawah tanggungjawabnya.
b.      Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
c.       Memberi laporan.
Tanggungjawab ketua Tim :
  • a.       Membuat perencanaan.
  • b.      Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi.
  • c.       Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.
  • d.      Mengembangkan kemampuan anggota.
  • e.       Menyelenggarakan konferensi.
Tanggungjawab Kepala ruang :
  • a.       Menentukan standar pelaksanaan kerja.
  • b.      Supervisi dan evaluasi tugas staf
  • c.       Memberi pengarahan ketua tim.
Uraian tugas Kepala Ruang :
  • a.       Perencanaan
1)      Menunjukkan ketua tim akan bertugas di ruangan masing-masing
2)      Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
3)      Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien.
4)  Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/penjadwalan.
5)      Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan
6)      Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
7)    Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan . Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
8)      Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan.
9)      Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan RS.
  • b.      Pengorganisasian
1)      Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2)      Merumuskan tujuan metode penugasan
3)   Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas 4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat.
4)   Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan : membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll.
5)      Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
6)    Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktek Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada ditempat kepada ketua tim
7)      Memberikan wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.
8)      Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya
9)      Identifikasi masalah dan cara penanganan
  • c.       Pengarahan
1)      Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
2)      Memberi pujian kepada anggota yang melaksanakan tugas dengan baik
3)      Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap
4)    Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien
5)      Melibatkan bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. 6) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
  • d.      Pengawasan
1)  Melalui komunikas : Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksanan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien
2)      Melalui superfisi : Pengawasan langsung dan tidak langsung.
3)     Evaluasi : Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim serta melakukan Audit keperawatan.
Metode tim merupakan suatu model dan praktik keperawatan profesional dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif ( Douglas, 1984).
Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut:
a.                   Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan.
b.                   Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c.                   Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
d.               Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar