A.
Pengertian MPKP
Model Praktek Keperawatan Profesional adalah suatu sistem (struktur, proses, dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawatan
profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian asuhan tsb (Hoffart & Woods, 1996).
B.
Komponen MPKP:
- Nilai-nilai profesional
- Hubungan antar professional
- Metode pemberian asuhan keperawatan
- Pendekatan manajemen
- Penghargaan
C.
Manfaat MPKP;
Dapat meningkatkan mutu askep
Untuk menata tenaga keperawatan dlm upaya menuju layanan
yg profesional
Untuk proses belajar bagi mahasiswa keperawatan
Untuk menunjang program pendidikan ners spesialis
keperawatan.
Untuk tempat penelitian keperawatan.
D.
Langkah-langkah tahap pelaksanaan MPKP:
- Pelatihan tentang MPKP.
- Memberi bimbingan kepada PP dlm konferensi.
- Memberi bimbingan pd PP dlm ronde dg PA.
- Memberi bimbingan pd PP dlm standar renpra.
- Memberi bimbingan pd PP dlm membuat kontrak / orientasi dg klien / klg.
- Memberi bimbingan PP dlm presentasi kasus dalam tim.
- Memberikan bimbingan pd CCM dlm membimbing PP dan PA.
- Memberi bimbingan pd tim ttg dokumentasi askep.
E. MODEL DAN BENTUK PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL
METODE PRIMER
Tujuan Model
Kepeawatan
- Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
- Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawata.
- Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
- Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.
- Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.
Pelayanan
Kesehatan Primer
Dalam penilainan tahunannya tentang
kesehatan dunia, para delegasi yang menghadiri pertemuan ke 28 World Health
Assembly di Geneva telah memutuskan bahwa situasi global sekarang ini tidak
sehat. Sejumlah contoh dari berbagai belahan dunia telah meyakinkan mereka
bahwa penggunaan suatu pendekatan yang disebut PHC, dapat berkontribusi sangat
besar dalam membebaskan seluruh masyarakat dari penderitaan yang terabaikan,
nyeri, ketidakmampuan dan kematian. Masyarakat global dapat terjamin, banyak
beban berat dari berbagai penderitaan dan kematian yang tidak diinginkan oleh
jutaan orang diseluruh dunia dapat dicegah melalui penerapan konsep PHC
(Bryant,1969;Newell,1975).
Metode Keperawatan Primer
Metode ini pertama kali diperkenalkan di
Inggris oleh Lydia Hall (1963) ini merupakan sistem dimana seorang perawat
bertanggung jawab selama 24 Jam sehari, 7 hari per minggu,ini merupakan metode
yang memberikan perawatan secara komprehensif, individual dan konsisten. Metode
keperawatan primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilan
manajemen. Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap
kebutuhan pasien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mengembangkan rencana
keperawatan, dan mengevaluasi keefektivitasan perawatan. Sementara perawat yang
lain menjalankan tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasi perawatan
dan menginformasikan tentang kesehatan pasien kepada perawat atau tenaga
kesehatan lainnya. Keperawatan Primer melibatkan semua aspek peran profesional,
termasuk pendidikan kesehatan, advokasi, pembuatan keputusan, dan kesinambungan
perawatan. Perawat primer merupakan manager garis terdepan bagi perawatan
pasien dengan segala akuntabilatas dan tanggung jawab yang menyertainya.
F.
Model dan Bentuk Praktik
Keperawatan Profesional Metode Tim
Model dan Bentuk Praktik
Keperawatan Profesional Metode Tim.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang
berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien.
Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim / grup yang terdiri dari tenaga
profesional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.
Kelebihan :
- Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
- Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
- Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan pada anggota tim.
Kelemahan :
- Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
- Akuntabilitas pada tim.
Konsep metode tim :
- Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan.
- Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
- Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
- Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh Kepala Ruang.
Tanggungjawab anggota tim
:
a. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dibawah tanggungjawabnya.
b. Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
c. Memberi laporan.
Tanggungjawab ketua Tim :
- a. Membuat perencanaan.
- b. Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi.
- c. Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.
- d. Mengembangkan kemampuan anggota.
- e. Menyelenggarakan konferensi.
Tanggungjawab Kepala ruang
:
- a. Menentukan standar pelaksanaan kerja.
- b. Supervisi dan evaluasi tugas staf
- c. Memberi pengarahan ketua tim.
Uraian tugas Kepala Ruang
:
- a. Perencanaan
1) Menunjukkan ketua tim akan bertugas di ruangan masing-masing
2) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
3)
Mengidentifikasi tingkat
ketergantungan klien.
4) Mengidentifikasi jumlah perawat
yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim,
mengatur penugasan/penjadwalan.
5)
Merencanakan strategi
pelaksanaan keperawatan
6)
Mengikuti visite dokter untuk
mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program
pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien.
7) Mengatur dan mengendalikan
asuhan keperawatan . Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
8)
Membantu membimbing terhadap
peserta didik keperawatan.
9)
Menjaga terwujudnya visi dan
misi keperawatan dan RS.
- b. Pengorganisasian
1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2)
Merumuskan tujuan metode
penugasan
3) Membuat rincian tugas ketua tim
dan anggota tim secara jelas 4) Membuat rentang kendali kepala ruangan
membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat.
4) Mengatur dan mengendalikan
tenaga keperawatan : membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari
dll.
5)
Mengatur dan mengendalikan
logistik ruangan
6) Mengatur dan mengendalikan
situasi lahan praktek Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada
ditempat kepada ketua tim
7)
Memberikan wewenang kepada tata
usaha untuk mengurus administrasi pasien.
8)
Mengatur penugasan jadwal pos
dan pakarnya
9)
Identifikasi masalah dan cara
penanganan
- c. Pengarahan
1) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
2) Memberi pujian kepada anggota yang melaksanakan tugas dengan baik
3) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan
sikap
4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan asuhan keperawatan pasien
5) Melibatkan bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan
tugasnya. 6) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
- d. Pengawasan
1) Melalui komunikas : Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan
ketua tim maupun pelaksanan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada
pasien
2)
Melalui superfisi : Pengawasan
langsung dan tidak langsung.
3) Evaluasi : Mengevaluasi upaya
pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun
bersama ketua tim serta melakukan Audit keperawatan.
Metode tim merupakan suatu model dan praktik keperawatan profesional dimana
seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan
kolaboratif ( Douglas, 1984).
Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa
setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan
asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat
yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron
& Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut:
a.
Ketua tim sebagai perawat
profesional harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan.
b.
Komunikasi yang efektif penting
agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c.
Anggota tim menghargai
kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruang penting
dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar